Rechercher dans ce blog

Friday, October 29, 2021

Review Film: A World Without - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

A World Without mengubur ekspektasi tinggi akan film orisinal Netflix dari Indonesia. Berusaha menyuguhkan berbagai isu, mulai dari pemberdayaan perempuan hingga gambaran dunia di masa depan, namun gagal dieksekusi secara apik.

Kisah film ini dimulai dari tiga remaja perempuan bernama Salina (Amanda Rawles), Tarda (Asmara Abigail) dan Ulfah (Maizura) yang ingin bergabung dengan organisasi misterius The Light. Organisasi ini dikelola sepasang suami istri yang bernama Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia (Ayushita).

Film ini berlatar tahun 2030 setelah pandemi berakhir di Indonesia. Hal ini bisa dikatakan menjadi ide segar yang ditawarkan film ini.


Namun sayangnya, ide tersebut tidak tergambarkan dengan baik. Visual futuristik terlihat tanggung dalam film ini. Kecanggihan teknologi yang ditampilkan hanya sebatas gawai yang transparan.

A World Without juga berusaha menyampaikan bahwa keadaan dunia semakin memburuk pasca pandemi. Namun hal tersebut hanya disampaikan lewat dialog.

Sementara secara visual, kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja tidak digambarkan dengan jelas selama film berlangsung.

Film A World WithoutReview A World Without mengubur ekspektasi tinggi akan film Indonesia orisinal garapan Netflix. (Arsip Netflix)

Film ini seperti kehilangan fokus dalam menggambarkan detail cerita. Pesan pemberdayaan perempuan yang dikatakan kuat oleh sang sutradara Nia Dinata dalam film ini, juga tidak tersampaikan dengan jelas.

Pada bagian tengah, film ini berusaha menampilkan keadaan menegangkan. Namun sayang, ketegangan dari adegan sama sekali tidak terasa.

Film ini juga terkesan gagal klimaks. Pertentangan antara tokoh protagonis dan antagonis digambarkan biasa saja. Hal itu membuat konflik yang sebenarnya rumit dalam film ini terasa biasa saja.

Ada salah satu kejanggalan yang cukup mengganggu dimana Salina (Amanda Rawles) baru melakukan riset di internet mengenai organisasi The Light setelah ia cukup lama berada di dalamnya. Setelah itu, ia baru menemukan fakta bahwa organisasi tersebut bermasalah.

Rasanya cukup aneh jika ia bergabung dengan organisasi itu tanpa melakukan riset di internet terlebih dahulu. Apalagi cerita film ini berlatar tahun 2030 di mana teknologi sangat canggih. Sementara saat ini saja, masyarakat cenderung mencari apa saja di internet, mulai dari hal sepele hingga masalah serius.

Alur film ini pun terasa tidak mulus. 

[Gambas:Youtube]

Review A World Without lanjut ke sebelah..

Review A World Without: Ekspektasi Tak Terpenuhi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Adblock test (Why?)


Review Film: A World Without - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Film MONSTA X: The Dreaming Tayang Global Desember 2021 - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

MONSTA X akan merilis film baru dalam waktu dekat. Starship Entertainment selaku agensi mengumumkan film baru bertajuk MONSTA X: The Dreaming akan dirilis pada Desember 2021.

Film MONSTA X: The Dreaming akan mengisahkan perjalanan boyband tersebut dalam enam tahun terakhir, menampilkan cuplikan-cuplikan yang belum pernah dilihat sebelumnya, termasuk saat promosi di AS.

"Pada Desember ini, bergabung dengan Monbebe di seluruh dunia untuk terhubung menjadi satu dan bermimpi jadi satu ketika MONSTA X: The Dreaming tayang di bioskop seluruh dunia," kata I.M dalam video promosi film tersebut.


"Film baru ini akan menyajikan penampilan musik kami, wawancara mendalam, dan cerita di belakang layar secara eksklusif di layar lebar. Kami tak sabar untuk melihat kalian di sana."

"Sampai jumpa," ujar para member MONSTA X.

Seperti dilansir Mail Kyungjae via Naver pada Jumat (29/10), Starship Entertainment juga mengatakan film itu akan menampilkan pertunjukan konser MONSTA X termasuk wawancara bersama para member.

MONSTA X: The Dreaming turut akan menyajikan penampilan perdana dari lagu-lagu terbaru MONSTA X dari album berbahasa Inggris, The Dreaming, yang dirilis pada 10 Desember 2021.

Agensi menyatakan film MONSTA X: The Dreaming akan tayang perdana di jaringan bioskop lokal terbesar di sana mulai 8 Desember 2021. Tiket di sana sudah bisa dipesan sejak 4 November 2021.

[Gambas:Instagram]

"Setelah itu, MONSTA X: The Dreaming akan dirilis di lebih dari 70 negara di seluruh dunia," tulis Starship Entertainment.

Jelang perilisan film terbaru dan album berbahasa Inggris mereka, MONSTA X juga bersiap comeback dengan mini album No Limit pada 19 November 2021.

Tak hanya itu, Shownu, Minhyuk, Kihyun, Hyungwon, Joohoney, dan I.M ini juga telah dikonfirmasi bergabung dalam daftar artis yang tampil di iHeartRadio Jingle Ball Tour tahun ini.

Hal tersebut membuat MONSTA X akan berada di empat kota berbeda di Amerika Serikat pada Desember ini.

(chri)

[Gambas:Video CNN]

Adblock test (Why?)


Film MONSTA X: The Dreaming Tayang Global Desember 2021 - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Deretan Film Asia yang Wajib Ditonton di Netflix - detikHot

Jakarta -

Di saat-saat seperti ini rasanya Netflix sudah menjadi teman setia yang selalu siap menyajikan berbagai film bagi para pecinta film. Setiap bulannya Netflix selalu merilis film-film terbaru yang siap menemani hari-hari kalian. Berbagai film dari berbagai negara telah tersedia di Netflix, tak terkecuali film-film dari Asia.

Perfilman Asia sempat menjadi pusat perhatian di tahun 1990an bahkan banyak film-film ikonik dari Asia di tahun 1990an. Film Asia dikenal dengan memiliki unsur budaya yang kental serta alur cerita yang berbeda hingga mampu mencuri perhatian penonton. Hingga kini deretan film Asia pun tidak pernah absen dalam list film yang ditayangkan oleh Netflix. Berikut beberapa film Asia yang wajib ditonton di Netflix.

1. Lust Stories

Film Asia di NetflixFilm Asia di Netflix Foto: Dok. Netflix

Lust Stories merupakan salah satu film antologi dari India yang dirilis pada tahun 2018. Film asal India ini disutradarai oleh Anurag Kashyap, Zoya Akhtar, Dibakar Banerjee, dan Karan Johar. Menjadi salah salah satu film antologi dari India, film ini merupakan sebuah sekuel dari film sebelumnya yang telah dirilis pada tahun 2013 berjudul Bombay Talkies. Menyajikan berbagai kisah romantis, film Lust Stories hadir dalam empat bagian film pendek dengan durasi masing-masing 20 menit.

2. The Victim's Games

Film Asia di NetflixFilm Asia di Netflix Foto: Dok. Netflix

The Vistim's Games merupakan serial Taiwan yang dibintangi oleh Joseph Chang, Ann Hsu dan Jason Wang. The Victims's Games bercerita tentang seorang detektif forensik yang memiliki sindrom Asperger menemukan bahwa putrinya terlibat dalam sebuah pembunuhan yang misterius. Serial ini juga telah sukses meraih berbagai penghargaan.

3. The Night Comes for Us

Film Asia di NetflixFilm Asia di Netflix Foto: Dok. Netflix

The Night Comes for Us merupakan film aksi asal Indonesia yang telah dirilis pada tahun 2018. Disutradarai oleh Timo Tjahjanto film ini dibintangi oleh sederet aktor dan aktris ternama seperti Joe Taslim, Iko Uwais, Julie Estelle dan lainnya. Film ini bercerita tentang seorang anggota geng Six Seas yang merupakan pembunuh kelas kakap dalam geng tersebut.

4. Rajma Chawal

Film Asia di NetflixFilm Asia di Netflix Foto: Dok. Netflix

Rajma Chawal merupakan film Asia tepatnya dari India yang telah dirilis pada tahun 2018. Film ini dibintangi oleh Rishi Kapoor, Anirudh Tanwar dan Amyra Dastur sebagai pemeran utamanya. Rajma Chawal mengusung cerita tentang hubungan antara anak dan ayah di zaman sekarang.

5. Ride or Die

Film Asia di NetflixFilm Asia di Netflix Foto: Dok. Netflix

Ride or Die merupakan film asal Jepang yang dibintangi oleh Kiko Mizuhara dan Hona Ikoka. Dirilis pada April 2021 lalu, film ini dibalut dengan sentuhan thriller dan petualangan. Film yang didasarkan pada serial manga Ching Nakamura Gunjō ini bercerita tentang Rei yang membantu wanita yang ia cintai untuk kabur dari suami yang kerap melakukan kekerasan pada wanita tersebut.

Simak Video "Fantastis! 'Squid Game' Sumbang Cuan Rp 12,5 T untuk Netflix"
[Gambas:Video 20detik]
(ass/ass)

Adblock test (Why?)


Deretan Film Asia yang Wajib Ditonton di Netflix - detikHot
Kelanjutan Disini Klik

5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Army of Thieves-Tokyo Revengers - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

Pada akhir pekan ini, banyak film baru dari Hollywood maupun Asia bisa menjadi opsi tontonan di bioskop maupun layanan streaming. Seperti Army of Thieves yang mengisahkan kehidupan Ludwig sebelum Army of the Dead.

Ada pula Tokyo Revengers, film live action hasil adaptasi manga bertajuk serupa karya Ken Wakui, yang akhirnya tayang di bioskop.

Berikut 5 rekomendasi film akhir pekan ini yang bisa disaksikan di layanan streaming legal serta jaringan bioskop di Indonesia.


1. Army of Thieves

Army of Thieves mengisahkan masa lalu Ludwig Dieter (Matthias Schweighofer), ahli sekaligus pembobol brankas, sebelum muncul dalam Army of the Dead. Ia ternyata selama ini telah dipantau oleh Gwendoline (Nathalie Emmanuel).

Pada suatu hari, Gwendoline menghampiri Ludwig dan ingin merekrutnya. Ia mengatakan wabah zombi yang terjadi di Amerika Serikat menjadi kesempatan bagi mereka untuk mencuri.

Sehingga, seluruh perhatian dunia teralihkan ke wabah tersebut sehingga ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Mereka pun menargetkan tiga brankas milik Bly Tanaka (Hiroyuki Sanada).

Film untuk remaja ini bisa disaksikan di Netflix.

[Gambas:Youtube]

2. Story of Dinda: Second Chance of Happiness

Story of Dinda: Second Chance of Happiness merupakan film lepas dari Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020).

Film ini menyajikan masalah dari sudut pandang Dinda, sementara Story of Kale: When Someone's in Love yang telah tayang sebelumnya memperlihatkan dari sudut pandang Kale.

Salah satu permasalahan yang ditampilkan adalah ketika Dinda (Aurelie Moeremans) merasakan senang dan kenyamanan di dekat Pram (Abimana Aryasatya) yang memiliki sifat berbeda dari Kale (Ardhito Pramono).

Film untuk remaja ini bisa disaksikan di Bioskop Online.

[Gambas:Youtube]


Lanjut sebelah...

5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Army of Thieves-Tokyo Revengers

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Adblock test (Why?)


5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Army of Thieves-Tokyo Revengers - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Siap Tayang, Film Love Knots Sajikan Drama Percintaan Remaja, Ada Unsur Drakor - Tribunnews.com

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Arie Puji Waluyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Inspire Production tengah bersiap meluncurkan film perdananya yang bertajuk Love Knots, yang dibintangi oleh artis-artis muda Indonesia.

Rizky Nazar, Beby Tsabina, Vlademir Rama, Brisia Jodie, dan masih banyak lagi akan mengadu bakat aktingnya dalam film Love Knota, sebuah film bergenre drama remaja yang mengangkay cerita tentang anak SMA.

Rossa sebagai eksekurif produser Inspire Production mengatakan, lewat film Love Knots pihaknya berusaha meramaikan industri perfilman dengan karya yang berkualitas.

Baca juga: Rizky Nazar Kesusahan Jadi Anak SMA, Dianggap Guru Akting di Film Love Knots

Baca juga: Ngefans Kim Seon Ho, Prilly Latuconsina Sedih Jika Idolanya Tak Ada Lagi di Industri Drakor

"Aku optimis banget. Film ini menjadi wujud keseriusan kami turut andil dalam pasar industri perfilman Indonesia," kata Rossa dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/10/2021).

Sementara itu, P Intan S selaku eksekutif produser menyampaikan, pihaknya mencoba keberuntungan di industri perfilman lewat film beruansa drama remaja karya sutradara Anika Marani.

"Kami mulanya bergerak dibidang musik dan manajemen artis lewat Inspire Musik. Tapi, lewat Inspire Production, kami menampilkan karya bercerita tentang drama anak sekolahan," ucap P Intan S dalam jumpa pers film Love Knots, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis sore.

"Kenapa? Karena banyak orang yang sudah rindu dengan sekolah tatap muka," tambahnya.

Guna menjadi film yang diminati masyarakat nantinya, Intan memasukan unsur drama korea dalam film Love Knots.

"Saya sempat bilang ke sutradara dan produser, 'gua mau bikin film tapi kayak drama korea. Bisa ga?' Jawabannya nonton film ini. Karena kebetulan Beby Tsabina suka Drama Korea, dan Rossa juga suka Drama Korea," jelas Intan.

Adblock test (Why?)


Siap Tayang, Film Love Knots Sajikan Drama Percintaan Remaja, Ada Unsur Drakor - Tribunnews.com
Kelanjutan Disini Klik

Thursday, October 28, 2021

Habiskan Rp2,8 Triliun, Eternals Jadi Film Marvel dengan Ulasan Paling Buruk - idxchannel

 IDxChannel - Meski digadang-gadang sebagai film paling ambisius Marvel Studios di tahun ini, Eternals rupanya tak berhasil memikat hati para kritikus. Bahkan, Eternals kini dinobatkan menjadi film MCU dengan ulasan terburuk.

Setelah tayang perdana belum lama ini, akhirnya ulasan Eternals mulai berdatangan ke berbagai situs aggregator ulasan, Rotten Tomatoes. Sayangnya, ulasan yang datang tak semanis yang diharapkan; Eternals hanya bisa mendapat skor sebesar 73% dan mengambil posisi di antara film Avengers: Age of Ultron dan Iron Man 2 yang, meski tak buruk, namun juga tak bagus-bagus amat.

Seakan masih butuh pukulan telak, Eternals pun terus dibombardir ulasan buruk dan kini sudah tergelincir ke angka 63%, angka terburuk yang pernah didapatkan oleh film MCU manapun selama satu dekade ini; bahkan lebih buruk dari film Thor: The Dark World yang mendapat skor 66%.

Dilansir dari CBR, Jumat (29/10/2021), mayoritas kritikus merasa kurang puas dengan film Eternals yang dianggap ‘gagal’ dalam menyeimbangkan tema-tema dan tokoh-tokohnya. Menampilkan sebuah kisah fiksi-ilmiah yang kental dengan elemen fantasi, para kritikus menganggap Chloe Zhao sebagai sutradara berusaha untuk menampilkan topik-topik serius yang terkesan timpang dengan film MCU lainnya.

Ulasan buruk tersebut tentunya timpang dengan biaya produksi film Eternals yang mencapai USD200 Juta atau sekitar Rp2,8 Triliun. Itu berarti Eternals termasuk salah satu film Marvel paling mahal dan setara dengan ongkos produksi Black Panther.

Eternals berfokus pada sekumpulan ras manusia kuno yang telah tinggal di bumi selama ribuan tahun dan menyembunyikan identitas mereka. Namun, saat sekelompok makhluk ancaman bernama Deviants menyerang bumi, mau tak mau para Eternals harus mengungkap jati diri mereka demi melindungi manusia.

Salahsatu topik kontroversial yang dibawa oleh Eternals adalah isu pernikahan sesama jenis yang, untuk pertama kalinya, ditayangkan secara gamblang dalam film MCU. Meski langkah ini berhasil mendapatkan banyak pujian dari kritikus, diperkirakan akan ada banyak penonton yang mengkritisi elemen ini karena tak sesuai dengan pandangan personal mereka.

Kini, meski Eternals mendapat ulasan yang cukup buruk, tim Marvel Studios telah mengembangkan sebuah sekuel sebagai kelanjutan dari kisah tokoh-tokoh baru MCU ini. Dibintangi Angelina Jolie, Kit Harrington, Kumail Nanjiani, Gemma Chan, Salma Hayek, dan masih banyak lagi, Eternals akan rilis di bioskop Indonesia pada tanggal 3 November mendatang. (TIA)

Adblock test (Why?)


Habiskan Rp2,8 Triliun, Eternals Jadi Film Marvel dengan Ulasan Paling Buruk - idxchannel
Kelanjutan Disini Klik

Pengamat: UU Sensor Film Hong Kong Bisa Pengaruhi Produksi Film Independen - Bahasa Indonesia - VOA Indonesia

Anggota parlemen Hong Kong pada Rabu (27/10) meloloskan amandemen RUU Sensor Film yang memungkinkan pihak berwenang melarang pemutaran film yang sudah atau sedang tayang, yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.

Orang-orang yang terbukti bersalah memproduksi film semacam itu dapat dihukum hingga tiga tahun penjara dan denda $128 ribu (Rp1,8 miliar).

Juni lalu, pemerintah Hong Kong mengumumkan usulan amandemen undang-undang pengaturan film di wilayah itu. Para sineas, baik lokal maupun luar negeri, mengatakan kepada VOA bahwa langkah itu akan melumpuhkan industri film Hong Kong.

Pada pertemuan Dewan Legislatif Hong Kong – parlemen kota tersebut – ketika RUU itu disahkan, Priscilla Leung Mei-fun, anggota parlemen yang pro-Beijing mengatakan, “Tidak ada masyarakat di dunia ini yang menyambut baik kekuatan yang mendorong generasi muda untuk melanggar hukum, memendam kebencian terhadap negaranya sendiri dan merangkul terorisme,” lapor surat kabar The South China Morning Post.

Sebelumnya, Federasi Pembuat Film Hong Kong mengatakan pihaknya “khawatir” akan aturan baru itu. Namun, ketika dihubungi oleh VOA, mereka tidak memberikan komentar lebih lanjut.

Christopher Ling, sutradara iklan dan sineas di Hong Kong, mengatakan kepada VOA awal tahun ini bahwa undang-undang itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan industri.

“Untuk film-film yang tidak peduli pada pasar China, kebanyakan film Hong Kong bebas menyuarakan apa yang ingin diangkat sang sutradara.”

“Setelah undang-undang tersebut (disahkan), itu tampaknya tidak lagi berlaku. Dan bagian yang paling mengerikan adalah pemerintah berhak memutuskan apa yang boleh dan tidak. Tidak ada indikasi yang jelas tentang apa yang bisa diangkat atau tidak,” ungkapnya.

Ling mengatakan, film-film yang dianggap sensitif secara politik biar bagaimanapun akan terpengaruh, sekalipun tidak diputar di Hong Kong.

“Terlepas dari film Hong Kong, saya juga khawatir banyak film tidak bisa diimpor dan didistribusikan di Hong Kong mulai sekarang. Jangankan film berskala besar, film independen pun dikhawatirkan seperti itu… sineas seharusnya khawatir peraturan itu akan mempengaruhi mereka,” tambahnya.

Sebuah layar mempromosikan sebuah film Hong Kong berjudul "Far From Home" (foto: ilustrasi).
Sebuah layar mempromosikan sebuah film Hong Kong berjudul "Far From Home" (foto: ilustrasi).

Meski demikian, Kenny Kwok Kwan Ng, lektor Akademi Perfilman di Hong Kong Baptist University, mengatakan kepada VOA bahwa undang-undang itu kemungkinan besar menyasar film-film independen, ketimbang film komersial bermodal besar.

“Dampak utama mungkin dirasakan film-film dokumenter. Khususnya beberapa tahun dan dekade terakhir, ada peningkatan jumlah film dokumenter, bukan komersial, yang diproduksi secara lebih independen, yang juga merekam aksi-aksi sosial, krisis-krisis sosial.”

“Film-film itu lebih rentan terdampak undang-undang penyensoran, karena jika mereka merekam aksi, hal-hal yang dianggap pemerintah berisiko atau tidak diinginkan atau membahayakan kerukunan sosial, keamanan sosial – ini mungkin akan dilarang diputar untuk umum,” ujar Ng kepada VOA melalui sambungan telepon.

Ng mengatakan, ia mencoba bersikap optimistis, karena UU penyensoran itu dapat mendorong sineas baru agar lebih kreatif dalam membuat film independen.

Akan tetapi, dengan berlakunya UU itu, Ng mengatakan para pembuat film sudah mulai mencari kanal alternatif untuk menampilkan karya mereka dan menghindari penyensoran.

Ada beberapa contoh aksi penyensoran yang sudah terjadi pada industri film Hong Kong.

Maret lalu, sebuah bioskop setempat membatalkan penayangan film dokumenter pemenang penghargaan, Inside the Red Brick Wall. Dokumenter itu berpusat pada bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi di Universitas Politeknik Hong Kong pada November 2019, yang berlangsung selama dua pekan.

Pada bulan yang sama, jaringan TV terbesar di Hong Kong, Television Broadcast Ltd (TVB), membatalkan penayangan acara penganugerahan the Academy Awards untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, dengan alasan komersial. Keputusan itu diambil karena China meminta media mengurangi peliputan acara penghargaan itu setelah dokumenter berjudul Do Not Split karya sineas Norwegia, Anders Hammer, menerima nominasi Oscar. Dokumenter itu mengangkat demonstrasi anti-pemerintah Hong Kong yang banyak diberitakan.

Pemerintah China akhir-akhir ini menyasar industri hiburan, salah satunya dengan mengatur standar kecantikan dan upaya untuk mengekang “selebriti pria yang berperilaku seperti wanita.” China juga tidak senang dengan sikap politik sutradara kelahiran Beijing, Chloe Zhao, yang beberapa kali memenangkan penghargaan sebagai sutradara terbaik untuk filmnya, Nomadland. [rd/ka]

Adblock test (Why?)


Pengamat: UU Sensor Film Hong Kong Bisa Pengaruhi Produksi Film Independen - Bahasa Indonesia - VOA Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Facebook SDK

Featured Post

Sinopsis Film Agak Laen Tayang 1 Februari di Bioskop, Ceritakan Rumah Hantu di Pasar Malam - Tribun-Video.com

[unable to retrieve full-text content] Sinopsis Film Agak Laen Tayang 1 Februari di Bioskop, Ceritakan Rumah Hantu di Pasar Malam    Tribun...