Rechercher dans ce blog

Monday, March 29, 2021

Deretan Anjing Pintar Pemeran Film Tenar Sepanjang Abad - Kompas.com - KOMPAS.com

KOMPAS.com - Para penyayang anjing dan penyayang binatang pada umumnya, pasti selalu tergoda untuk menonton film yang isinya persahabatan seekor anjing dengan manusia.

Beberapa film ada yang mendatangkan kebahagiaan dan juga tawa. Namun ada pula yang membuat kita menyusut air mata. 

Meski begitu, film yang memiliki alur sedih ini justru seringnya meledak di pasaran. Salah satunya adalah Hachiko: A Dog's Story, yang dirilis tahun 2009. 

Film yang dibintangi oleh Richard Gere ini menceritakan tentang seekor anjing peliharaan yang setia menunggu tuannya di sebuah stasiun kereta api.

Sejak pertengahan 2009 hingga 2010, film ini sudah dirilis lebih dari 20 negara. Di akhir 2020, Box Office Mojo mengumumkan bahwa pendapatan kotor film ini sudah lebih dari 41 juta dollar Amerika.

Banyak sekali bertebaran film yang menceritakan soal anjing. Tentu saja, magnet dalam film-film ini terletak pada tokoh utamanya, para anjing yang sudah terlatih untuk bisa bermain film.

Baca juga: Berapa Lama Usia Hidup Anjing? Ini Penjelasannya

Berikut ini adalah beberapa aktor film anjing terbaik yang ada dalam satu abad terakhir, seperti dilansir dari Reader's Digest:

Rin Tin Tin (1920)

Rin Tin Tin adalah anjing ras gembala jerman yang lahir September 1918 di Friley, Perancis. Pemiliknya, adalah seorang tentara Amerika bernama Lee Duncan yang menyelamatkannya dari kemelut perang dunia.

Rin Tin TinNewyorktimes Rin Tin Tin

Melihat respon cerdas Rin Tin Tin ketika diajak bicara atau diperintah, Duncan pun melatihnya dengan intens. Hingga Rin Tin Tin ditarik bermain film dan sukses membintangi beberapa film bisu di masanya.

Film pertama Rin Tin Tin adalah When The North Begins yang dibuat tahun 1923. Kemudian disambung film The Clash of The Wolves di tahun 1925, yang menuntut Rin Tin Tin harus ekstra berperan dalam adegan-adegan fisik cukup sulit.

Baca juga: Jadwal Terbaru Deretan Film DC Comics, dari Black Adam hingga Aquaman 2

Lassie (1943) 

Semenjak Lassie tenar di tahun 1940, nama Lassie pun melekat erat pada binatang peliharaan anjing.

Lassie membintangi film pertamanya berjudul Lassie Come Home pada tahun 1943. Pemeran Lassie sendiri sebenarnya bernama Pal, seekor anjing Collie yang ramah dan pintar karena sudah dilatih lama.

Karena tenar bermain dalam film tersebut, Pal pun lebih sering disapa Lassie ketimbang nama aslinya.

Pal awalnya hanya stunt dog dalam sebuah film. Namun sutradara terkesima dengan aktingnya menyeberang sungai, hingga akhirnya Pal disodori tawaran untuk jadi pemeran utama.

Sepanjang 18 tahun hidupnya, Pal atau Lassie sudah membintangi 6 judul film.

Spike "Old Yeller" (1950)

Film Old Yeller keluaran Disney tahun 1957 bisa jadi adalah film yang paling bisa menguras air mata.

Jika Anda menonton film ini dan mengetahui bahwa pemeran utamanya adalah anjing gelandangan yang diselamatkan, bisa jadi air mata akan makin banyak yang tumpah.

Frank dan Rudd, pelatih anjing profesional, menemukan Spike meringkuk di sebuah shelter. Mereka tertarik dengan bulu coklat keemasan milik anjing ras labrador ini.

Spike tak langsung mendapat peran utama lantaran ia terlalu ramah berkeliling di antara kru film ketimbang bermain film.

Namun setelah mendapat pelatihan yang intens, Spike pun bisa mendapatkan peran utama.

Baca juga: Tayang April 2021, Berikut 5 Film Korea dan Hollywood yang Paling Ditunggu

Benji (1970)

Tak butuh lama buat film Benji (1974) meraih kesuksesan. Film ini bercerita tentang anjing yang menjadi pahlawan menyelamatkan dua orang kakak beradik.

Film ini dibintangi oleh Higgins, seekor anjing ras campuran yang hidup di jalanan kemudian diselamatkan dan dilatih akting.

Higgins atau Benji bermain film dalam usia yang sudah menginjak 14 tahun. Sudah termasuk anjing senior, namun Benji masih bisa dilatih dengan mudah.

Inilah yang membuat Benji jadi istimewa, dan sering diminta bermain jadi bintang tamu di beberapa film lain, seperti serial televisi, Lassie.

Buddy Air Bud (1990)

Tak ada sebelumnya yang pernah memadukan film anjing dengan film olahraga. Hanya produser dan sutradara Air Bud lah yang mau dan bisa.

Film Air BudIMDB Film Air Bud

Adalah Buddy, si aktor kaki empat yang melakukan sendiri keseluruhan trik basket di dalam film tersebut.

Produser film Air Bud menekankan bahwa tak ada teknologi CGI atau visual effect digunakan di film yang dirilis tahun 1997 tersebut.

Semuanya murni diperankan oleh seekor anjing golden retriever yang memang sudah ahli dalam bermain basket.

Si pemilik, Kevin DiCicco, adalah yang melatih Buddy sendiri. Karena melihat bakat anak bulunya yang luar biasa, Kevin membawa Buddy ke ajang David Letterman Show. Dari situlah, pundi-pundi akhirnya mengalir ke kantong Kevin dan Buddy.

Marley (2008)

FIlm Marley & Me dinobatkan sebagai salah satu film anjing yang bisa menguras air mata. Film ini berkisah tentang sebuah keluarga yang memelihara anjing nakal namun menggemaskan sedari kecil.

Tentu saja, untuk memerankan fase demi fase pertumbuhan anjing, diperlukan banyak aktor kaki empat yang memerankan fase bayi anjing hingga anjing dewasa. Total aktor kaki empat di sini ada 22 ekor anjing.

Namun pemegang peran utama, adalah Clyde, seekor anjing golden retriever berusia tiga tahun.

Sontak setelah memerankan Marley dan tenar, Clyde pun sering disapa dengan nama barunya, Marley.

Baca juga: Kenapa Anjing Suka Mengikuti Kita ke Mana-mana? Ini Penyebabnya

Let's block ads! (Why?)


Deretan Anjing Pintar Pemeran Film Tenar Sepanjang Abad - Kompas.com - KOMPAS.com
Kelanjutan Disini Klik

Sinopsis X&Y, Film Vertikal Pertama di TikTok, Rilis Hari ini - Kompas.com - KOMPAS.com

JAKARTA, KOMPAS.com - TikTok Indonesia berkolaborasi dengan Studio Antelope untuk menghadirkan film vertikal pertama berjudul X&Y.

Film yang ditulis dan disutradarai oleh Jason Iskandar ini tayang di akun TikTok @tiktokofficialindonesia mulai hari ini, Senin (29/3/2021).

Film X&Y dibintangi oleh Jourdy Pranata dan Arawinda Kirana yang masing-masing berperan sebagai Omar dan Winda.

Arawinda Kirana sendiri baru saja mendapatkan penghargaan sebagai Aktris Pendatang Baru Terpilih di Piala Maya 2021.

Baca juga: Sinopsis Barb and Star Go to Vista Del Mar, Tayang Hari Ini di CGV

Film X&Y mengangkat cerita romansa tentang Omar, yang merepresentasikan sumbu Y, dan Winda si sumbu X.

Tinggal bertetangga selama tiga tahun di sebuah rumah kos membuat Omar jatuh cinta kepada Winda.

Terlebih lagi, Winda tak pernah ragu untuk menunjukkan perhatiannya kepada Omar.

Seperti pada suatu hari, saat Winda tiba-tiba memberi tanaman sebagai hadiah untuk Omar yang baru saja menyelesaikan skripsi.

Baca juga: Sinopsis Breakup Buddies, Perjalanan Mengobati Patah Hati

Omar pun memastikan kalau Winda akan diundang ke acara wisudanya.

Namun, Omar tak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Winda.

Hingga pada suatu hari, Omar menemukan kalau Winda telah pindah dari kamar kosnya.

Bagai sumbu X & Y yang pernah bertemu di satu titik yang sama, kini mereka melangkah ke arah yang berbeda.

Baca juga: Sinopsis Innocent Moves, Perjalanan Hidup Seorang Pecatur, Tayang di Netflix

Film pendek berdurasi sembilan menit 16 detik ini hadir dalam format vertikal atau portrait, seperti ciri khas video TikTok yang lain.

Hal ini dirasa sangat cocok untuk memudahkan para pecinta film yang lebih banyak mengakses hiburan melalui ponsel.

Tak hanya dibintangi aktor dan aktris profesional, film X&Y juga melibatkan para kreator TikTok yang memiliki bakat di bidang akting.

Baca juga: Sinopsis The Killing of a Sacred Deer, Tayang 7 April di CATCHPLAY+

Seperti di antaranya Dwynna Win yang memerankan karakter Chelsea, Avan The Love sebagai Mas Yos dan Giovani Divaldhi sebagai Vano.

Lagu original TikTok berjudul “Terpikat Senyummu” dari kreator musik Brigita Meilala pun menjadi soundtrack dari film ini.

Apabila Anda penasaran dengan kisah Omar dan Winda, film pendek X&Y sudah bisa disaksikan lewat aplikasi TikTok mulai hari ini.

Let's block ads! (Why?)


Sinopsis X&Y, Film Vertikal Pertama di TikTok, Rilis Hari ini - Kompas.com - KOMPAS.com
Kelanjutan Disini Klik

Sunday, March 28, 2021

Gundah Gulana Pekerja Film - kompas.id

Memuat data...

Kompas/Priyombodo

Rahmadia (tengah) berlatih aksi bela diri untuk film laga di Studio Piranha Stunt Indonesia di Depok, Jawa Barat, Jumat (26/3/2021). Rahmadia adalah salah seorang pendiri Piranha Stunt Indonesia. Rahmadia yang merupakan pemeran figuran dan pengganti aksi laga dan berbahaya untuk film ini mengakui turut terdampak  pandemi Covid-19 yang memukul industri film di dalam negeri. Rahmadia pernah menjadi figuran dalam film laga The Raid.

Pandemi Covid-19 membuat para pekerja film mati kutu. Shooting hilang, penghasilan melayang. Para produser setiap hari menghitung kerugian, sementara pekerja film terus menguras tabungan untuk membiayai hidup. Ibarat film horor, hantu pandemi benar-benar menyeramkan.

Jumat (26/3/2021), belasan pemuda  berprofesi sebagai pemeran pengganti (stuntman) hadir di sebuah studio di Depok, Jawa Barat. Mereka melancarkan pukulan, tendangan, dan gerakan pertarungan lainnya. Namun, para pemuda yang tergabung dalam komunitas Pinraha Stunt Indonesia itu tidak sedang melakukan adegan shooting, mereka hanya latihan. Harapannya, jika sewaktu-waktu ada tawaran main film layar lebar atau webseries, mereka sudah siap.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, jadwal latihan lebih banyak dibandingkan jadwal shooting yang dilakoni para anggota komunitas pengganti itu. Bahkan, empat bulan pertama setelah pandemi melanda Indonesia dan pembatasan sosial dilakukan, praktis mereka benar-benar menganggur. Padahal, sebelum pandemi setiap bulan mereka bisa terlibat dalam 5-6 proyek film bioskop, webseries, iklan, atau acara televisi.

”Itulah susahnya hidup di film. Kalau (shooting) berhenti, tidak ada pemasukan apa-apa. Sebisa mungkin saya macul, nukang, ngelas, semua saya kerjakan. Kalau tidak begitu, kayak orang bodoh, tidak kerja, tidak ada pendapatan,” tutur Rahmadia, anggota Piranha Stunt Indonesia, yang terlibat sebagai pemeran pengganti dan pemeran pendukung dalam film The Raid.

Memuat data...

Kompas/Priyombodo

Muhammad Yazid (kanan) berlatih gerak bela diri untuk film laga di Studio Piranha Stunt Indonesia di Depok, Jawa Barat, Jumat (26/3/2021). Muhammad Yazid adalah salah seorang pendiri Piranha Stunt Indonesia. Pandemi Covid-19 yang memukul industri film di Tanah Air berdampak pada para aktor pemeran figuran dan pengganti.

Hal senada dikatakan Muhammad Yazid. Dia mengaku, pendapatannya sebagai pemeran pengganti berkurang hingga 75 persen gara-gara pandemi. Ia dan kawan-kawannya harus bertahan hidup dengan uang tabungan yang dikumpulkan susah payah. ”Kami tertolong karena ada produksi film Gatot Kaca,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun bekerja di dunia film, baru kali ini saya mengalami kondisi sangat berat. Waktu krisis 1998, saya cuma nganggur selama empat bulan, sekarang 10 bulan. (Didin Syamsudin)

Didin Syamsudin, yang berkecimpung di industri film sejak 1971, merasakan dahsyatnya pukulan pandemi. Ia menganggur sekitar 10 bulan terhitung sejak akhir 2019 ketika ia terlibat dalam shooting film Miracle. Ia baru dapat pekerjaan lagi pada pengujung September 2020. ”Selama bertahun-tahun bekerja di dunia film, baru kali ini saya mengalami kondisi sangat berat. Waktu krisis 1998, saya cuma nganggur selama empat bulan, sekarang 10 bulan,” katanya.

Situasi bertambah berat ketika anaknya terinfeksi Covid-19 dan meninggal. ”Tahun 2020 jadi tahun terberat buat saya sekeluarga,” ujar Didin yang beralih profesi menjadi tukang jahit dibantu seorang temannya.

Baca juga: Menopang Pekerja Film Tak Cukup Hanya dengan Bantuan Sosial

Memuat data...

Tahan penayangan

Di Makassar, Sunarti Sain, Eksekutif Produser 786 Productions, gundah gulana lantaran tiga film yang ia produksi terpaksa ia tahan penayangannya. Keputusan itu diambil menyusul hasil buruk film De Toeng yang tayang Februari lalu ketika kasus pandemi melonjak tajam.

Film yang diangkat dari legenda horor asal Jeneponto itu hanya meraih 35.000 penonton atau sepertiga dari target 100.000 penonton. ”Modal tidak kembali, merugi tentu saja. (Saya) jadi tidak enak sama pemodal. Untuk film yang belum tayang, saya masih bingung menjelaskan kepada pemodal,” katanya.

Dalam situasi normal, lanjut Sunarti, rumah produksi yang menghasilkan film-film berlatar belakang budaya Bugis-Makassar dan suku-suku lain di Sulsel itu bisa memproduksi 3-4 film setahun. Sejak pandemi, hanya satu film yang diproduksi, yakni Ambo Nai Sopir Andalan.

”Memproduksi satu film saja rasanya agak memaksa. Kami usahakan biaya dibuat seefisien mungkin dan bekerja dengan protokol kesehatan ketat,” tambah Sunarti yang pernah sukses dengan film Uang Panai’, film Bugis-Makassar pertama yang menggetarkan jaringan bioskop besar dan meraih 500.000-an penonton.

Situasi serupa dihadapi Ponti Gea, pembuat film berbahasa Nias dan Batak. Ia terpaksa berhenti berkarya pada awal pandemi. Setelah beradaptasi dengan situasi pandemi, ia mulai membuat beberapa film pendek berdurasi 15-20 menit untuk diunggah di Youtube, seperti Covid-19 and The Fear (2020). Sayang, hasilnya mengecewakan. ”Yang ada kita keluar uang tanpa pemasukan. Kita produksi, tetapi tidak ada hasil karena bioskop tidak buka bahkan televisi pun tidak mau putar,” kata Ponti dari Nias.

Kegagalan itu, menurut Ponti, akibat penerapan protokol kesehatan yang membatasi kreativitas pembuat film. Pengambilan gambar hanya dilakukan di rumah. Jumlah pemain pun hanya empat orang. Film jadi kehilangan daya tarik buat penonton.

Kondisi Nias yang perlahan menuju zona hijau mendorong Ponti untuk memproduksi serial The Jungle Boys: The Hidden Treasure of the Island sejak Agustus 2020. Pengambilan gambar dengan protokol kesehatan ketat berakhir akhir Maret lalu. Ia lantas memasarkan film serialnya lewat Okeflix, sebuah layanan bioskop virtual baru dari Indonesia. Hasilnya, membuat ia kecewa. Sejak dirilis pada Februari lalu, tiket film itu baru laku 50-an dengan harga satuan Rp 4.000.

”Kalau dihitung-hitung, saya mungkin baru dapat sekitar Rp 100.000. Shooting belum selesai, saya sudah habis hampir Rp 600 juta karena harus membiayai tim yang terdiri atas 13 orang,” kata Ponti dengan tawa kecut.

Memuat data...

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Pengerjaan sunting sebuah film yang tengah dalam tahap produksi di Belantara Films, Desa Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (2/3/2021).

Serbuan pandemi terjadi justru ketika industri film bioskop sedang bersinar terang. Film yang ditayangkan di bioskop pada 2018 dan 2019 masing-masing 128 dan 129 buah. Penontonnya melampaui angka 50 juta setiap tahunnya. Semua itu langsung lenyap disapu pandemi. Hanya tujuh judul film Indonesia beredar di bioskop dengan jumlah penonton 390.000 orang.

Pukulan pandemi dirasakan nyaris merata dari investor hingga pekerja film di struktur paling bawah. Pasalnya, mereka adalah pekerja lepas yang hanya bisa mendapatkan uang jika industri film berputar.

Baca juga: Sempat ”Tiarap” karena Pandemi, Perfilman Yogyakarta Menggeliat Lagi

Sejak Oktober 2020, kegiatan shooting pelan-pelan bersemi lagi dan tawaran pekerjaan mulai menghampiri para pekerja film. Namun, situasi masih belum pasti lantaran belum ada tanda-tanda pandemi bakal segera berhenti.

Let's block ads! (Why?)


Gundah Gulana Pekerja Film - kompas.id
Kelanjutan Disini Klik

Sinopsis Film The Unholy, Tayang 31 Maret 2021 di CGV - Kompas.com - KOMPAS.com

JAKARTA, KOMPAS.com - The Unholy merupakan film horor yang dijadwalkan tayang pada Rabu (31/3/2021) di seluruh jaringan bioskop CGV

Film bertema horor klasik ini mengangkat kisah seorang wanita tunarungu bernama Alice (Cricket Brown). 

Suatu hari, Alice dikunjungi oleh seorang perawan Maria yang dikabarkan dapat menyembuhkan orang sakit.

Baca juga: Sinopsis Sandeep Aur Pinky Faraar, Tayang Mulai Hari ini di CGV

Alice adalah salah satu orang yang berhasil disembuhkan.

Kini ia bisa mendengar dan berbicara layaknya banyak orang pada umumnya.

Semenjak kejadian tersebut, orang kemudian berbondong-bondong ingin menyaksikan bagaimana keajaiban tersebut bisa terjadi. 

Salah satunya adalah seorang jurnalis yang diperankan oleh Jeffrey Dean Morgan.

Baca juga: Sinopsis Seo Bok, Misi Penyelamatan Kloning Manusia, Tayang 15 April di CGV

Ia berusaha mengusut lebih lanjut tentang kejadian istimewa tersebut. 

Sayangnya, semakin jauh ia mengusut, sang jurnalis justru menemukan serangkaian peristiwa mengerikan yang berkaitan dengan perawan Maria tersebut.

Ia pun mulai bertanya-tanya, apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang baik atau justru jauh lebih jahat dari yang ia kira. 

Baca juga: Sinopsis The Box, Film Terbaru Chanyeol EXO, Tayang 7 April di CGV

Sang sutradara, Evan Spiliotopoulos, menggandeng beberapa aktor serta aktris papan atas untuk turut membintangi film ini, seperti Jeffrey Dean Morgan dan Marina Mazepa. 

Ingin tahu lebih lanjut kisah seram dalam film ini?

Saksikan film The Unholy yang tayang di CGV pada 31 Maret 2021.

Let's block ads! (Why?)


Sinopsis Film The Unholy, Tayang 31 Maret 2021 di CGV - Kompas.com - KOMPAS.com
Kelanjutan Disini Klik

Menegangkan, Berikut 5 Rekomendasi Film tentang Terorisme - Kompas.com - KOMPAS.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Kejadian menegangkan dan menyeramkan seperti terorisme kerap terjadi di berbagai belahan dunia. 

Terorisme sendiri merupakan isu serius yang banyak menelan korban jiwa dan meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang. 

Tidak jarang kisah terorisme tersebut diangkat menjadi sebuah karya, salah satunya film. 

Apa saja? Berikut lima rekomendasi film tentang terorisme yang dapat Anda saksikan. 

Baca juga: Sinopsis The Big Sick, Percintaan Rumit dengan Segala Perbedaan

1. Hotel Mumbai (2008) 

Hotel Mumbai merupakan film tentang terorisme yang terjadi di salah satu hotel di India pada 26 November 2008 silam. 

Selama film berlangsung, Anda akan melihat perjuangan para pegawai di hotel tersebut dalam menyelamatkan para tamu yang diserang sekelompok teroris. 

Berbagai macam serangan mulai dari penyanderaan, penembakan, sampai peledakan pun terjadi hingga memakan lebih dari 200 korban jiwa dan hampir 400 orang mengalami luka. 

Baca juga: Sinopsis Film Parker, Jennifer Lopez Balas Dendam Bersama Jason Statham

Film besutan sutrada Anthony Maras ini dirilis perdana pada April 2019 dan beberapa tokoh nyata juga turut tampil di dalamnya, termasuk Herman Oberoi. 

Saksikan kisah menegangkan terorisme di Hotel Mumbai melalui Amazon Prime Video.

2. 15:17 to Paris 

Kisah terorisme yang diangkat dalam film 15:17 to Paris merupakan kejadian nyata yang terjadi di sebuah kereta api di Eropa pada 21 Agustus 2015 silam. 

Kereta tersebut tengah melaju dari Amsterdam menuju Paris dan mendapatkan serangan dari teroris yang juga menjadi penumpang di dalamnya.

Pada waktu teror terjadi, dua orang tentara Amerika berusaha membekuk dan menggagalkan serangan mereka. 

Baca juga: Sinopsis Film Renegades, Usaha Navy SEAL Dapatkan Harta Karun di Dasar Danau 

Alur cerita dalam film ini dibuat berdasarkan sebuah buku berjudul The 15:17 to Paris: The True Story of a Terrorist, Train and Three American Heroes karya Spencel Stone.

Dirilis pada 9 Februari 2018, film 15:17 to Paris telah tersedia di Netflix.

3. 22 Menit (2018)

Isu terorisme yang diangkat menjadi sebuah film kali ini berasal dari tanah air, 22 Menit. 

Film tersebut mengangkat kejadian yang terjadi pada Januari 2016 lalu di MH Thamrin, Jakarta.

Dikisahkan para anggota kepolisian diberikan sebuah misi untuk melakukan perburuan pelaku teror yang berlangsung selama 22 menit. 

Baca juga: Sinopsis Film Crank 2: High Voltage, Bertahan Hidup dengan Tenaga Baterai

Disutradarai Eugene Panji dan Myrna Paramita, film yang diperankan Ario Bayu dan Ardina Rasti tersebut telah dirilis pada 19 Juli 2018 dan dapat Anda saksikan di Viu.

4. World Trade Center (2006) 

Kisah tentang serangan teroris lainnya diulas dalam film World Trade Center (WTC) yang terjadi di New York pada 11 September 2001 silam. 

Diangkat menjadi sebuah film oleh sutradara Oliver Stone, film ini bercerita tentang dua orang polisi yang terjebak dalam reruntuhan Menara WTC akibat aksi pengeboman.

Mereka adalah John McLoughin (Nicolas Cage) dan Will Jimeno (Michael Pena). 

Kala itu, Will seharusnya libur dari pekerjaannya, namun ia tetap harus bertugas.

Baca juga: Sinopsis Annie, Upaya Gadis Cilik Mencari Orang Tua Kandungnya

Sedangkan John tengah berkeliling melakukan patroli kota.

Tidak lama, keduanya mendapatkan perintah untuk pergi ke Menara WTC. 

Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sampai di sana mereka melihat gumpalan asap dan orang-orang berlarian dalam keadaan panik.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa teror sedang terjadi. 

Baca juga: Sinopsis Wisting, Teror Pembunuh Berantai di Kota Kecil, Tayang di Mola TV

Will dan John pun segera berusaha melakukan misi penyelamatan.

Mereka mengutamakan keselamatan para warga meskipun harus mengorbankan diri. 

Bahkan mereka sampai terjebak dalam reruntuhan gedung WTC. 

Simak film World Trade Center di Amazon Prime Video untuk tahu nasib mereka selanjutnya.

Baca juga: Sinopsis Ms J Contemplates Her Choice, Pilihan yang Menentukan Nasib

5. 12 Strong 

Sama seperti judulnya, film ini mengisahkan tentang 12 prajurit Amerika Serikat yang tengah melawan teroris dari Afghanistan pasca kejadian Menara WTC. 

Dibintangi Chris Hemsworth, kisah dalam film ini diadaptasi dari buku berjudul Horse Soldiers karya Doug Stanton.

Kapten Mitch Nelson (Chris Hemsworth) kala itu mendapatkan tugas dari kesatuannya untuk berangkat ke Afghanistan.

Baca juga: Sinopsis La Templanza, Tayang Hari Ini di Amazon Prime Video

Di sana, Mitch bersama rekan-rekan lainnya berusaha menaklukkan pasukan dari Al-Qaeda dan Taliban yang tengah berencana melalukan serangan teror. 

Dibantu pasukan dari Jenderal Dostum, pasukan Mitch yang berjumlah 12 orang ini menerjang medan perang dengan sisa-sisa senjata yang mereka miliki.

Film 12 Strong dapat Anda saksikan di CATCHPLAY+ 

Itulah kelima rekomendasi film yang mengangkat kisah terorisme. 

Let's block ads! (Why?)


Menegangkan, Berikut 5 Rekomendasi Film tentang Terorisme - Kompas.com - KOMPAS.com
Kelanjutan Disini Klik

Menopang Pekerja Film Tak Cukup Hanya dengan Bantuan Sosial - kompas.id

Memuat data...

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO

Objek wisata alam dilukis oleh para pelukis dari Purbalingga dan Banyumas pada dinding Bioskop Misbar Purbalingga, Jawa Tengah, Minggu (21/3/2021).

JAKARTA, KOMPAS - Terganggunya produksi dan distribusi film karena pandemi Covid-19 memengaruhi kelangsungan hidup pekerja perfilman. Bantuan sosial yang digalang sesama pekerja ataupun yang bersumber dari pemerintah hanya bersifat sementara.

Dalam laporan "Pemandangan Umum Industri Film Indonesia (2020)", jumlah film Indonesia yang beredar di bioskop tahun 2018 dan 2019 adalah sama, yaitu 128 judul. Dengan jumlah judul sebanyak itu, jumlah penonton bioskop tahun 2019 mencapai 51,9 juta orang  atau naik 1,38 persen dari perolehan tahun 2018.

Sepanjang tahun 2019, terdapat penambahan 78 bioskop dengan 286 layar. Penambahan terjadi di 43 kota di 19 provinsi. Dengan demikian pada akhir 2019 total terdapat 508 bioskop dengan 2.110 layar.

Pada tahun 2019 pula, ada 15 judul film yang beredar di bioskop dengan penonton di atas satu juta orang atau sebanyak 57 persen dari total seluruh penonton.

Dengan pencapaian seperti itu, pendiri rumah produksi Kharisma Starvision Plus sekaligus Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Chand Parwez, Kamis (25/3/2021) di Jakarta, mengatakan, perfilman Indonesia sebenarnya dalam kondisi positif. Kontribusi sektor industri film ke produk domestik bruto (PDB) mencapai sekitar Rp 15 triliun pada 2019. Di samping itu, pemerintah daerah juga menerima pemasukan berupa pajak hiburan.

Industri perfilman Indonesia seharusnya 'lepas landas'. Akan tetapi, pandemi yang mulai terjadi tahun lalu menyebabkan hanya tujuh judul film Indonesia beredar di Bioskop dengan jumlah penonton 390.000 orang. Ini adalah kerugian besar bagi industri ataupun negara.(Chand Parwez)

"Industri perfilman Indonesia seharusnya 'lepas landas'. Akan tetapi, pandemi yang mulai terjadi tahun lalu menyebabkan hanya tujuh judul film Indonesia beredar di Bioskop dengan jumlah penonton 390.000 orang. Ini adalah kerugian besar bagi industri ataupun negara," ujar dia.

Hingga akhir Maret 2020, setidaknya terdapat sepuluh judul film yang ditunda penayangannya. Sebagai contoh, KKN di Desa Penari, Tersanjung The Movie, Jodohku Ke Mana?, Generasi 90- an:Melankolia, dan Bucin.

Skala kerugian finansial produksi antara satu film dengan film lainnya tidak sama. Ini disebabkan oleh perbedaan anggaran produksi yang telah ditetapkan sejak awal di tiap proyek sampai dampak sosial ekonomi.

Hal yang menarik, Chand mengatakan, sektor industri perfilman terdiri dari sekitar 2.500 jenis usaha yang saling mendukung produksi sampai distribusi. Ketika tidak ada produksi, maka ribuan jenis usaha tersebut terdampak semuanya.

Basis data pekerja film di filmindonesia.or.id (FI) sejauh ini hanya dapat mencatat para pekerja yang namanya tercantum pada kredit utama film sebagai kru kreatif. Secara keseluruhan, sejak tahun 1998-2017, jumlah orang yang terlibat dalam basis data FI mencapai 23.000 orang.

"Orang awam kadang hanya tahu artisnya, padahal ada kru kreatif, karyawan pemasaran, bioskop, pekerja katering, usaha kecil menengah di sekitar lokasi syuting, sampai penyewaan alat. Sopir yang antar-jemput juga bagian dari industri," kata Chand.

Baca juga: Berpikir Kreatif dan Adaptif di Tengah Pandemi Covid-19

Memuat data...

Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) Edwin Nazir saat dihubungi Jumat (26/3/2021), di Jakarta, menceritakan, di Indonesia, Januari-Maret 2020, produksi-distribusi film masih normal. Film Milea:Suara dari Dilan masih memperoleh jumlah penonton yang banyak. Produksi masih berlangsung normal meski kasus Covid-19 pertama diumumkan. Namun, tak lama sesudah itu,  pelaku industri perfilman mendapat imbauan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengurangi kegiatan.

Mengutip laporan "Pemandangan Umum Industri Film Indonesia (2020)", pemerintah Indonesia dinilai gagap dan tidak satu suara dalam mengambil keputusan dan langkah-langkah yang sistematis untuk mencegah penyebaran penularan Covid-19. Sebagai contoh, Peraturan Pemerintah No 21/2020 tidak mewajibkan pemerintah lokal untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebab PSBB hanya bisa diterapkan dengan persetujuan Kementerian Kesehatan.

Pada awal April 2020, hanya permintaan pemerintah provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat terkait PSBB yang dikabulkan. Beberapa permintaan dari pemerintah kota/kabupaten ditolak, termasuk Rote Ndao (NTT), Sorong (Papua Barat), Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), dan Gorontalo. Daerah Istimewa Yogyakarta yang kerap dianggap sebagai lokus seni budaya terkesan bersikeras menolak PSBB.

"Syuting film berhenti sejak ada surat imbauan dari Kapolri tanggal 26 Maret 2020. Kami yang semula masih bisa optimis menjadi dilanda ketidakpastian. Teman-teman kru kreatif paling terdampak dan di antaranya ada yang beralih profesi untuk bertahan hidup," kata Edwin.

Memuat data...

AFP/JONATHAN NACKSTRAND

Sandra Fogel, seorang warga Swedia, menunggu untuk menonton film sendirian di antara kursi kosong di aula bioskop selama Festival Film Gothenburg, pada 30 Januari 2021 di Gothenburg, Swedia. Fogel mendaftar untuk menjadi salah satu orang yang diizinkan untuk menonton satu dari 70 film Festival Film Gothenburg, yang tahun ini sebagian besar berlangsung secara daring.

Sementara

Di kalangan sesama pekerja film timbul solidaritas untuk bersama-sama menggalang bantuan, seperti yang dilakukan kelompok Solidaritas Sinema dan Paguyuban Filmmaker Jogjakarta (PFJ).

Solidaritas Sinema menggalang dana dari para aktor, asosiasi pekerja film, dan organisasi lainnya. Mereka juga melakukan pengumpulan dana publik (crowdfunding) dengan mekanisme transfer tunai atau penjualan kaos. Cara kerja mereka diawali dengan mendata calon penerima melalui Google Form, lalu verifikasi berdasarkan produksi film terakhir.

Sementara PFJ merupakan wadah pertemuan pekerja film berbasis di Yogyakarta sejak 2013. Mereka memperoleh bantuan dari Pakualaman, konser amal Didi Kempot, dan menjalin kerjasama dengan Dinas Kebudayaan Yogyakarta untuk memperoleh dana produksi film sekaligus disisihkan untuk memberikan donasi.

Aprofi melalui Gerakan Aprofi Peduli juga mengumpulkan donasi melalui platform Kitabisa.com. Dana terkumpul mencapai sekitar Rp 80,6 juta dan dibagi menjadi bantuan tunai untuk yang disalurkan ke 100 pekerja film harian, seperti pengemudi, pembantu umum, dan runner.

"Penggalangan dana bertujuan membantu bertahan hidup sementara," kata Edwin.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud juga turut membantu pekerja film terdampak melalui program Apresiasi Pelaku Budaya (APB) selama tahun 2020. Total terdapat 1.690 orang pekerja film media baru yang menerima bantuan APB.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Judi Wahjudin, Sabtu (27/3/2021), di Jakarta, menjelaskan, pada tahun 2021 program APB tidak ada tetapi dialihkan ke kegiatan-kegiatan yang bersifat fasilitasi dan kerjasama. Sebab, berdasarkan hasil evaluasi, program APB bersifat temporer dan nilai bantuan relatif tidak besar. Sementara para pekerja film tidak hanya butuh dukungan untuk kehidupan melainkan juga kelangsungan berkarya.

Baca juga: Dirundung Pandemi, Industri Perfilman Membutuhkan Strategi Baru

Ragam kegiatan fasilitasi dan kerjasama yaitu Fasilitasi Bidang Kebudayaan, Indonesiana Film, dan Kerjasama dengan Lembaga Profesi Bidang Perfilman. Harapannya, hal tersebut bisa menambahkan spirit para pekerja film.

"Tentunya, apa yang kami dukung tidak bisa menyelesaikan semua masalah pekerja film. Keterbatasan ini perlu didukung oleh lembaga dan pemangku kepentingan lainnya," tutur Judi.

Let's block ads! (Why?)


Menopang Pekerja Film Tak Cukup Hanya dengan Bantuan Sosial - kompas.id
Kelanjutan Disini Klik

"Godzilla vs. Kong" jadi film berpenghasilan terbaik selama pandemi - ANTARA

Jakarta (ANTARA) - "Godzilla vs. Kong" menjadi film pandemi terbaik di box office luar negeri dengan menghasilkan total 121,8 juta dolar Amerika pada saat pembukaan, ini memberikan harapan pada perfilman Hollywood bahwa film unggulan mereka dapat kembali berjaya saat bioskop dibuka.

Dilansir The Hollywood Reporter, Senin, sebelumnya film karya Christopher Nolan, "Tenet" menjadi film dengan pembukaan terbesar pada awal pandemi dengan menghasilkan 53 juta dolar.

Akan tetapi, kolaborasi dua studio Legendary dan Warner Bros. dengan film monsternya mampu menciptakan rekor baru di China, di mana saat peluncurannya langsung mendapatkan 70,3 juta dolar.

Baca juga: Jack Farthing perankan Pangeran Charles di "Spencer"

Legendary memiliki tugas distribusi dan pemasaran tunggal di China, sementara Warner menangani di tempat lain.

Film ini juga cukup kuat di wilayah Meksiko, Australia dan Rusia. Secara keseluruhan, apa yang dihasilkan oleh "Godzilla vs. Kong" setara dengan "Kong: Skull Island" dan jauh di depan "Godzilla: King of the Monsters".

"Godzilla vs. Kong" diluncurkan di total 39 pasar, meskipun film tersebut belum dibuka di Jepang hingga Mei. Bioskop Imax berhasil menjual tiket sebesar 12,4 juta dolar pada akhir pekan dan ini menjadi pembukaan terbaiknya sejak Desember 2019.

Film tersebut baru akan diluncurkan di Amerika Utara pada 31 Maret.

Di China, film yang disutradarai oleh Adam Wingard ini menguasai 82 persen pangsa pasar dan mencetak pembukaan terbesar untuk film asing sejak 2019. Film ini juga dibuka setara dengan angsuran terakhir, "Godzilla: King of the Monsters" sebesar 70,6 juta dolar.

"Godzilla vs. Kong" juga mendapat pembukaan terbaik saat pandemi di negara lain termasuk Meksiko yang menghasilkan 6,3 juta dolar. Australia mendapat perolehan yang sama sebesar 6,3 juta dolar melampaui angka penghasilan kotor untuk "Godzilla: King of the Monsters" dan Rusia mendapat 5,8 juta dolar.

Taiwan membuka dengan 5,2 juta dolar dan menandai sebagai pembukaan terbesar kedua untuk rilisan Warner Bros yang berada di belakang "Aquaman". Sedangkan India menandai pembukaan terbesar ketiga setelah "Batman v Superman" dan "The Nun" dengan mendapat 4,8 juta dolar.

Baca juga: Kata Michael Douglas soal film "superhero" dan layanan "streaming"

Baca juga: Prekuel "Jujutsu Kaisen 0" siap diadaptasi ke bentuk film

Baca juga: Film "Transformers" terbaru akan segera digarap

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Let's block ads! (Why?)


"Godzilla vs. Kong" jadi film berpenghasilan terbaik selama pandemi - ANTARA
Kelanjutan Disini Klik

Facebook SDK

Featured Post

Sinopsis Film Agak Laen Tayang 1 Februari di Bioskop, Ceritakan Rumah Hantu di Pasar Malam - Tribun-Video.com

[unable to retrieve full-text content] Sinopsis Film Agak Laen Tayang 1 Februari di Bioskop, Ceritakan Rumah Hantu di Pasar Malam    Tribun...