Rechercher dans ce blog

Friday, October 29, 2021

Review Film: A World Without - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

A World Without mengubur ekspektasi tinggi akan film orisinal Netflix dari Indonesia. Berusaha menyuguhkan berbagai isu, mulai dari pemberdayaan perempuan hingga gambaran dunia di masa depan, namun gagal dieksekusi secara apik.

Kisah film ini dimulai dari tiga remaja perempuan bernama Salina (Amanda Rawles), Tarda (Asmara Abigail) dan Ulfah (Maizura) yang ingin bergabung dengan organisasi misterius The Light. Organisasi ini dikelola sepasang suami istri yang bernama Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia (Ayushita).

Film ini berlatar tahun 2030 setelah pandemi berakhir di Indonesia. Hal ini bisa dikatakan menjadi ide segar yang ditawarkan film ini.


Namun sayangnya, ide tersebut tidak tergambarkan dengan baik. Visual futuristik terlihat tanggung dalam film ini. Kecanggihan teknologi yang ditampilkan hanya sebatas gawai yang transparan.

A World Without juga berusaha menyampaikan bahwa keadaan dunia semakin memburuk pasca pandemi. Namun hal tersebut hanya disampaikan lewat dialog.

Sementara secara visual, kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja tidak digambarkan dengan jelas selama film berlangsung.

Film A World WithoutReview A World Without mengubur ekspektasi tinggi akan film Indonesia orisinal garapan Netflix. (Arsip Netflix)

Film ini seperti kehilangan fokus dalam menggambarkan detail cerita. Pesan pemberdayaan perempuan yang dikatakan kuat oleh sang sutradara Nia Dinata dalam film ini, juga tidak tersampaikan dengan jelas.

Pada bagian tengah, film ini berusaha menampilkan keadaan menegangkan. Namun sayang, ketegangan dari adegan sama sekali tidak terasa.

Film ini juga terkesan gagal klimaks. Pertentangan antara tokoh protagonis dan antagonis digambarkan biasa saja. Hal itu membuat konflik yang sebenarnya rumit dalam film ini terasa biasa saja.

Ada salah satu kejanggalan yang cukup mengganggu dimana Salina (Amanda Rawles) baru melakukan riset di internet mengenai organisasi The Light setelah ia cukup lama berada di dalamnya. Setelah itu, ia baru menemukan fakta bahwa organisasi tersebut bermasalah.

Rasanya cukup aneh jika ia bergabung dengan organisasi itu tanpa melakukan riset di internet terlebih dahulu. Apalagi cerita film ini berlatar tahun 2030 di mana teknologi sangat canggih. Sementara saat ini saja, masyarakat cenderung mencari apa saja di internet, mulai dari hal sepele hingga masalah serius.

Alur film ini pun terasa tidak mulus. 

[Gambas:Youtube]

Review A World Without lanjut ke sebelah..

Review A World Without: Ekspektasi Tak Terpenuhi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Adblock test (Why?)


Review Film: A World Without - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Eternals Jadi Film MCU dengan Rating Kritikus Terendah - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

Eternals menjadi film Marvel Cinematic Universe (MCU) dengan peringkat terendah di laman agregator Rotten Tomatoes. Hal itu berdasarkan ulasan para kritikus film terhadap film ini.

Eternals mendapat rating sebesar 63 persen. Angka ini lebih rendang dibanding film MCU lainnya, Thor: The Dark World yang mendapat rating 66 persen.

Kritikus film Leah Greenblatt menuliskan bahwa Eternals terlalu dibuat sesuai Marvel yang menceritakan mitos asal yang berbelit-belit dengan pemandangan eksotis London, Hiroshima dan Babel Kuno.


Namun, ia juga mengakui jejak sutradara pemenang Oscar, Chloe Zhao, sulit untuk dilewatkan di film melankolis yang karakter-karakternya dalam dan unik.

Menurut kritikus Leo Brady, masalah utama Eternals bukan ada di Chloe Zhao, melainkan pada MCU. Menurutnya, Zhoe telah menciptakan film yang sesuai dengan gaya narasinya, dengan aktor-aktor ternama dan masih merekam sinematografi khasnya di lokasi.

Sementara itu, kritikus Sean Chandler mengaku tetap menghargai MCU karena berani mengambil risiko dengan menceritakan jenis cerita yang ambisius dan berbeda. Namun cerita film ini sama sekali tidak sesuai dengan ambisi film.

Berdasarkan 16 ulasan awal yang dihimpun Rotten Tomatoes, diberitakan EW pada Kamis (28/10) waktu AS, penilaian dan ulasan awal terhadap Eternals terbelah. Sebanyak 10 kritikus film memuji dan 6 kritikus lainnya mengkritik Eternals.

Salah satu pujian diberikan Owen Gleiberman sebagai kritikus dari Variety. Ia merasa Eternals adalah film menyenangkan untuk ditonton meski durasi film yang disutradarai Chloe Zhao ini terbilang lama.

Pujian lain datang dari Brian Truitt sebagai kritikus dari USA Today. Ia merasa Eternals benar-benar memanfaatkan keunggulan Zhao dan terasa ramah bagi penonton baru yang mulai memahami Marvel Cinematic Universe (MCU).

Meski mendapatkan banyak pujian, sederet kritik juga membuntuti film Eternals. Kritikus dari Indie Wire, David Ehrlich, menilai film tersebut tida bisa melakukan apa-apa selain menampilkan deretan pahlawan super seperti film lain.

Kemudian kritik lain datang dari Steve Rose sebagai kritikus dari Guardian. Ia menilai Eternals merupakan film biasa saja, yakni tidak terlalu membosankan tetapi juga tidak terlalu menarik untuk ditonton.

Eternals mengisahkan sekelompok manusia bernama Eternals yang memiliki kekuatan super. Mereka dikisahkan sudah ada sejak awal peradaban manusia dan disebut sebagai salah satu pahlawan super tertua di dunia.

Kali ini Eternals yang tersebar di berbagai tempat kembali bersatu untuk menjalani sebuah misi, mengalahkan musuh bebuyutan dan musuh tertua umat manusia yang tergabung dalam The Deviants.

Film ini menjadi perbincangan hangat setelah rilis lantaran menampilkan Harry Styles sebagai Eros yang merupakan adik dari Thanos dalam adegan pasca-kredit. Kemungkinan besar karakter tersebut akan muncul dalam film-film MCU di masa mendatang.

(fby/end)

[Gambas:Video CNN]

Adblock test (Why?)


Eternals Jadi Film MCU dengan Rating Kritikus Terendah - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Jangan Nonton Film di IndoXXI, Dunia21 & LK21, Ini Bahayanya! - CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Jangan lagi menonton konten seperti film dan serial dari layanan streaming ilegal seperti IndoXXI, Dunia21, dan LK21. Sebab ada bahaya bagi mereka yang melakukan itu.

CNBC Indonesia mencatat aktivitas itu dapat mengundang malware dan virus jahat menginfeksi perangkat yang digunakan. Selain itu juga bisa mencuri data pribadi pengguna.

Menggunakan streaming ilegal juga merugikan orang lain. Sebab akan melanggar hak cipta, jadi pembuat film tak mendapatkan pemasukan sementara membuat sebuah film sangat membutuhkan biaya besar.


Masyarakat diimbau untuk menonton hanya di layanan streaming resmi. Memang tidak akan bisa diakses secara gratis dan butuh berlangganan, namun ini jauh lebih aman dibandingkan menggunakan streaming ilegal.

Selain itu biaya berlangganan yang ditawarkan juga jauh lebih murah dengan jumlah konten yang sangat banyak. Cara mengaksesnya juga mudah sebab sudah tersedia di Play Store dan App Store.

Untuk daftar streaming, berikut beberapa diantaranya:

Netflix

Salah satu platform streaming yang populer. Ada banyak pilihan film, serial dan produksi konten originalnya dalam satu aplikasi. Netflix menawarkan sejumlah paket langganan yang dimulai dari Rp 49 ribu perbulannya.

GoPlay

Layanan ini berasal dari Gojek. Ada banyak film termasuk dari Indonesia dan konten originalnya. Paket berlangganannya mulai dari Rp 49 ribu disertai dengan bundling bersama voucher.

Maxstream

Layanan ini berasal dari Telkomsel dan menawarkan sejumlah layanan seperti HBO Go. Harga berlangganan adalah Rp 10 ribu hingga Rp 60 ribu termasuk pulsa.

Viu

Ada banyak konten film, drama dan variety show termasuk dari Korea Selatan yang ditawarkan Viu. Layanan ini juga memiliki konten originalnya sendiri. Pengguna bisa menonton secara gratis. Namun untuk mendapatkan kemampuan lainnya, bisa memilih berlangganan harganya berkisar Rp 30 ribu per bulan dan Rp 200 ribu setahun.

Genflix

Genflix menawarkan tontonan anime, film dan serial. Selain juga ada siaran TV dan live streaming eSports. Harga langganannya adalah Rp 49 ribu.

CatchPlay

Pengguna dapat melakukan sewa dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 22 ribu. CatchPlay juga menawarkan keanggotaan gratis untuk bisa menonton 10 judul setiap bulannya. Ada juga paket berlangganan tanpa batas yakni Movie Lovers Basic seharga Rp 45 ribu perbulan.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)

Adblock test (Why?)


Jangan Nonton Film di IndoXXI, Dunia21 & LK21, Ini Bahayanya! - CNBC Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Eternals Jadi Film MCU dengan Rating Kritikus Terendah - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

Eternals menjadi film Marvel Cinematic Universe (MCU) dengan peringkat terendah di laman agregator Rotten Tomatoes. Hal itu berdasarkan ulasan para kritikus film terhadap film ini.

Eternals mendapat rating sebesar 63 persen. Angka ini lebih rendang dibanding film MCU lainnya, Thor: The Dark World yang mendapat rating 66 persen.

Kritikus film Leah Greenblatt menuliskan bahwa Eternals terlalu dibuat sesuai Marvel yang menceritakan mitos asal yang berbelit-belit dengan pemandangan eksotis London, Hiroshima dan Babel Kuno.


Namun, ia juga mengakui jejak sutradara pemenang Oscar, Chloe Zhao, sulit untuk dilewatkan di film melankolis yang karakter-karakternya dalam dan unik.

Menurut kritikus Leo Brady, masalah utama Eternals bukan ada di Chloe Zhao, melainkan pada MCU. Menurutnya, Zhoe telah menciptakan film yang sesuai dengan gaya narasinya, dengan aktor-aktor ternama dan masih merekam sinematografi khasnya di lokasi.

Sementara itu, kritikus Sean Chandler mengaku tetap menghargai MCU karena berani mengambil risiko dengan menceritakan jenis cerita yang ambisius dan berbeda. Namun cerita film ini sama sekali tidak sesuai dengan ambisi film.

Berdasarkan 16 ulasan awal yang dihimpun Rotten Tomatoes, diberitakan EW pada Kamis (28/10) waktu AS, penilaian dan ulasan awal terhadap Eternals terbelah. Sebanyak 10 kritikus film memuji dan 6 kritikus lainnya mengkritik Eternals.

Salah satu pujian diberikan Owen Gleiberman sebagai kritikus dari Variety. Ia merasa Eternals adalah film menyenangkan untuk ditonton meski durasi film yang disutradarai Chloe Zhao ini terbilang lama.

Pujian lain datang dari Brian Truitt sebagai kritikus dari USA Today. Ia merasa Eternals benar-benar memanfaatkan keunggulan Zhao dan terasa ramah bagi penonton baru yang mulai memahami Marvel Cinematic Universe (MCU).

Meski mendapatkan banyak pujian, sederet kritik juga membuntuti film Eternals. Kritikus dari Indie Wire, David Ehrlich, menilai film tersebut tida bisa melakukan apa-apa selain menampilkan deretan pahlawan super seperti film lain.

Kemudian kritik lain datang dari Steve Rose sebagai kritikus dari Guardian. Ia menilai Eternals merupakan film biasa saja, yakni tidak terlalu membosankan tetapi juga tidak terlalu menarik untuk ditonton.

Eternals mengisahkan sekelompok manusia bernama Eternals yang memiliki kekuatan super. Mereka dikisahkan sudah ada sejak awal peradaban manusia dan disebut sebagai salah satu pahlawan super tertua di dunia.

Kali ini Eternals yang tersebar di berbagai tempat kembali bersatu untuk menjalani sebuah misi, mengalahkan musuh bebuyutan dan musuh tertua umat manusia yang tergabung dalam The Deviants.

Film ini menjadi perbincangan hangat setelah rilis lantaran menampilkan Harry Styles sebagai Eros yang merupakan adik dari Thanos dalam adegan pasca-kredit. Kemungkinan besar karakter tersebut akan muncul dalam film-film MCU di masa mendatang.

(fby/end)

[Gambas:Video CNN]

Adblock test (Why?)


Eternals Jadi Film MCU dengan Rating Kritikus Terendah - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Max Stahl: Pembuat film yang mengabadikan pembantaian di Timor Leste tutup usia - BBC News Indonesia

Max Stahl/Christopher Wenner on Blue Peter in 1979

Max Stahl, pembuat film Timor Leste yang jadi pahlawan nasional negara itu setelah filmnya membawa perhatian dunia terhadap peristiwa pembantaian Santa Cruz, telah meninggal dunia pada usia 66 tahun.

Max juga dikenal dengan nama Christopher Wenner ketika dia menjadi pembawa acara program anak-anak BBC dari 1978 sampai 1980.

Sebagai Max Stahl, ia memfilmkan pembantaian 271 pengunjuk rasa yang memprotes pemerintahan Indonesia saat Timor Leste masih menjadi Provinsi Timor Timur pada 1991.

Mantan Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, menyebutnya sebagai "putra berharga".

"Kami menghormatinya sebagai salah satu pahlawan sejati perjuangan kami," tulis Ramos-Horta di Facebook sesaat sebelum pembuat film itu wafat.

Baca juga:

Indonesia memerintah wilayah bekas jajahan Portugis itu sejak menginvasinya pada 1975. Stahl melakukan perjalanan ke sana pada 1991, setelah pembatasan wisatawan dilonggarkan tahun 1989.

Pada periode itu, dia mendengar rencana unjuk rasa ke Permakaman Santa Cruz setelah sebuah upacara memperingati seorang pendukung kemerdekaan Timor Leste.

Stahl mengatakan kepada BBC pada 2016: "Saya baru saja menyiapkan kamera saya ketika mendengar suara gemuruh, setidaknya 10 detik tembakan tanpa henti. Para tentara yang datang melepaskan tembakan tepat ke kerumunan beberapa ribu anak muda."

Dia menambahkan: "Tinggal tunggu waktu sebelum mereka datang kepada saya, dan saat itu saya berpikir, saya harus pergi dari sini."

Dia mengubur rekaman film itu di sebuah makam, yang belakangan diselundupkan keluar Timor Leste dan disiarkan ke seluruh dunia.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Ramos-Horta menulis: "Hanya ada beberapa poin kunci dalam sejarah Timor-Leste di mana bangsa kita menuju kemerdekaan. Ini adalah salah satu di antaranya.

"Ini adalah pertama kalinya pesan kami menyebar ke dunia. Jaringan hak asasi manusia beraksi. Senator, anggota Kongres, dan anggota parlemen datang ke kami. Dan ini terjadi ketika satu orang rela mempertaruhkan nyawanya untuk mendokumentasikan dari dekat apa yang terjadi dan menyelundupkan pesan itu keluar dari negara kita."

Stahl kemudian mengungkapkan bagaimana orang-orang yang selamat dari pembantaian Santa Cruz itu dibunuh secara brutal di rumah sakit; serta mendokumentasikan penindasan ketika Timor Timur mendeklarasikan kemerdekaan pada 1999.

Multi talenta

Stahl meninggal karena kanker di rumah sakit di Brisbane, Australia, pada Rabu (27/10).

Nama lengkapnya adalah Max Christopher Wenner. Ketika dia menjadi orang di belakang kamera, dia memakai nama gadis ibunya, Stahl.

Selama lebih dari 20 tahun, Stahl bekerja untuk saluran televisi di Inggris, Prancis, Jerman, Skandinavia, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat.

Karier jurnalistiknya juga membawanya bekerja sebagai koresponden perang di Beirut, Libanon.

Namun, dia tidak langsung menjadi jurnalis. Kariernya justru dimulai di teater sebagai aktor dan sutradara, sebelum bergabung dengan Blue Peter, sebuah acara televisi anak-anak di BBC.

Selanjutnya, ia mulai bekerja sebagai jurnalis investigasi dan pembuat film yang memproduksi film dokumenter dan berita di Amerika Latin, negara-negara bekas komunis, Kaukasus, Baltik, dan Balkan.

Pada 2000 ia dianugerahi penghargaan Festival Film New York dan UK Royal Television Society, serta menerima hadiah utama untuk jurnalisme kamera independen, Rory Peck Award.

Sepanjang kariernya, Stahl juga menulis skenario dan mengembangkan skenario untuk film.

'Sangat berprinsip'

Jonathan Head, koresponden BBC News Asia Tenggara, mengenal Stahl dengan baik dan menggambarkannya sebagai "lembut, sopan, sangat berprinsip dan berkomitmen penuh untuk mendukung rakyat Timor Leste".

"Proyek arsip yang dia jalankan untuk mendokumentasikan sejarah traumatis negara itu adalah kontribusi berharga untuk membantu orang mengingat dan mengakui sejarah," katanya.

"Rekaman video Chris adalah bukti video pertama kekejaman Indonesia. Ini pertama kali disiarkan di Channel 4 News dan kemudian berubah menjadi film dokumenter untuk Yorkshire TV.

"Film itu muncul pada saat isu hak asasi manusia mendapat perhatian lebih banyak di dunia pasca-Perang Dingin. Film itu memberikan tekanan besar bagi Indonesia untuk melonggarkan cengkeramannya serta sangat mendorong kampanye hak menentukan nasib sendiri bagi Timor Leste."

Adblock test (Why?)


Max Stahl: Pembuat film yang mengabadikan pembantaian di Timor Leste tutup usia - BBC News Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Sinopsis Warm Bodies, Film Zombie yang Berubah Jadi Manusia - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

Film bergenre zombie apocalypse biasanya menampilkan adegan kelompok zombie yang menyerang manusia sampai tewas.

Tapi, film Warm Bodies justru mempunyai alur cerita tidak biasa yang membuat penontonnya ikut terbawa perasaan. Ceritanya seputar film zombie yang berubah jadi manusia normal seperti pada umumnya.

Sinopsis Warm Bodies

Kisahnya berawal dari zombie dengan nama panggilan R (Nicholas Hoult) yang masih hidup dan tinggal di sebuah bandara hancur.


R menjalani kehidupannya itu bersama kawanan zombie lainnya. Sehari-hari mereka mencari mangsa seperti manusia untuk dijadikan santapan.

Tapi jika tidak ada mangsa, zombie tersebut akan memakan dirinya sendiri sampai berubah wujud menjadi bone alias tengkorak hidup.

Di bandara itu, R tinggal dengan zombie M atau Marcus (Rob Corddry) yang merupakan sahabatnya.

Bagian tubuh manusia yang selalu diincar para zombie adalah kepala karena mereka bisa menyantap otak.

Satu hari kawanan zombie termasuk R dan M ini dihadapkan dengan kelompok manusia normal dan berniat memangsa mereka.

Ketika para manusia itu melawan dengan senjata tajam, zombie R justru tidak melakukan perlawanan dan seperti bertemu cinta pada pandangan pertama pada Julie (Teresa Palmer).

Meski begitu, zombie R yang kelaparan akhirnya memangsa otak Perry (Dave Franco) yaitu kekasih Julie sampai tewas.

R yang makan otak Perry justru merasakan hal berbeda karena ia bisa melihat memori-memori indah dalam hidupnya termasuk saat jatuh cinta pada Julie.

Film zombie yang berubah jadi manusia ini menceritakan upaya zombie R dan kelompoknya untuk kembali hidup normal tanpa menyakiti manusia lain.

film warm bodiesSinopsis film zombie yang berubah jadi manusia, Warm Bodies) Foto: Summit Entertainment via Imdb)

Zombie R sangat tidak tega melukai Julie dan mereka pun jadi berteman. Tapi, sahabat R yaitu M menghasutnya untuk segera memangsa.

Enggan menuruti keinginan sahabatnya itu, R membawa kabur Julie supaya terbebas dari kawanan zombie lainnya. R juga menyesali perbuatannya yang telah menewaskan Perry.

Tapi di sisi lain, Julie ikut terbawa perasaan dan berniat membantu R untuk bisa menjadi manusia kembali meski caranya tidak mudah.

Film Warm Bodies yang rilis 2013 lalu merupakan garapan sutradara Jonathan Levine dan diproduseri oleh David Hoberman.

Kisah film Warm Bodies diadaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Isaac Marion, lalu diangkat ke layar lebar.

Deretan pemeran lain yang membintangi film zombie besutan Jonathan ada Analeigh Tipton, Cory Hardrict, John Malkovich dan masih banyak lagi.

Merujuk situs Rotten Tomatoes, film zombie mengusung genre komedi romantis ini mendapat rating hingga 81 persen.

Cerita lanjutan dari film zombie yang berubah jadi manusia Warm Bodies dapat kembali ditonton melalui berbagai layanan streaming legal, salah satunya Netflix.

(avd/fef)

[Gambas:Video CNN]

Adblock test (Why?)


Sinopsis Warm Bodies, Film Zombie yang Berubah Jadi Manusia - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Review Film: A World Without - CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia --

A World Without mengubur ekspektasi tinggi akan film orisinal Netflix dari Indonesia. Berusaha menyuguhkan berbagai isu, mulai dari pemberdayaan perempuan hingga gambaran dunia di masa depan, namun gagal dieksekusi secara apik.

Kisah film ini dimulai dari tiga remaja perempuan bernama Salina (Amanda Rawles), Tarda (Asmara Abigail) dan Ulfah (Maizura) yang ingin bergabung dengan organisasi misterius The Light. Organisasi ini dikelola sepasang suami istri yang bernama Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia (Ayushita).

Film ini berlatar tahun 2030 setelah pandemi berakhir di Indonesia. Hal ini bisa dikatakan menjadi ide segar yang ditawarkan film ini.


Namun sayangnya, ide tersebut tidak tergambarkan dengan baik. Visual futuristik terlihat tanggung dalam film ini. Kecanggihan teknologi yang ditampilkan hanya sebatas gawai yang transparan.

A World Without juga berusaha menyampaikan bahwa keadaan dunia semakin memburuk pasca pandemi. Namun hal tersebut hanya disampaikan lewat dialog.

Sementara secara visual, kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja tidak digambarkan dengan jelas selama film berlangsung.

Film A World WithoutReview A World Without mengubur ekspektasi tinggi akan film Indonesia orisinal garapan Netflix. (Arsip Netflix)

Film ini seperti kehilangan fokus dalam menggambarkan detail cerita. Pesan pemberdayaan perempuan yang dikatakan kuat oleh sang sutradara Nia Dinata dalam film ini, juga tidak tersampaikan dengan jelas.

Pada bagian tengah, film ini berusaha menampilkan keadaan menegangkan. Namun sayang, ketegangan dari adegan sama sekali tidak terasa.

Film ini juga terkesan gagal klimaks. Pertentangan antara tokoh protagonis dan antagonis digambarkan biasa saja. Hal itu membuat konflik yang sebenarnya rumit dalam film ini terasa biasa saja.

Ada salah satu kejanggalan yang cukup mengganggu dimana Salina (Amanda Rawles) baru melakukan riset di internet mengenai organisasi The Light setelah ia cukup lama berada di dalamnya. Setelah itu, ia baru menemukan fakta bahwa organisasi tersebut bermasalah.

Rasanya cukup aneh jika ia bergabung dengan organisasi itu tanpa melakukan riset di internet terlebih dahulu. Apalagi cerita film ini berlatar tahun 2030 di mana teknologi sangat canggih. Sementara saat ini saja, masyarakat cenderung mencari apa saja di internet, mulai dari hal sepele hingga masalah serius.

Alur film ini pun terasa tidak mulus. 

[Gambas:Youtube]

Review A World Without lanjut ke sebelah..

Review A World Without: Ekspektasi Tak Terpenuhi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Adblock test (Why?)


Review Film: A World Without - CNN Indonesia
Kelanjutan Disini Klik

Facebook SDK

Featured Post

Sinopsis Film Agak Laen Tayang 1 Februari di Bioskop, Ceritakan Rumah Hantu di Pasar Malam - Tribun-Video.com

[unable to retrieve full-text content] Sinopsis Film Agak Laen Tayang 1 Februari di Bioskop, Ceritakan Rumah Hantu di Pasar Malam    Tribun...